Ruang untuk nerima perasaan yang hadir
Kita sering merasakan hal-hal yang meresahkan hati, membuat gelisah, tidur pun tak nyenyak bahkan sulit tidur di waktu yang semestinya. Kita juga sadar betul kalau tidur salah satu cara mengistirahatkan segala beban yang kita rasakan, entah itu beban fisik yang menjadikan tubuh lelah atau beban mental yang menjadikan pikiran melelang buana sampai kepala terasa berat bahkan pusing saat teringat sesuatu hal.
Memang tak semua orang bisa mengungkapkan apa yang sedang dirasakan. Ada rasa tertekan sendiri jika ingin melakukannya, "Ah lebay curhat mulu, lemah banget apa-apa selalu diumbar" dan kalimat sindiran lainnya. Alih-alih menjadi lebih kuat karena mencoba meluapkan, malah rapuh karena penolakan orang terhadap kita yang ingin bersuara. Tak semua orang mau dan mampu mendengarkan.
Bersyukurlah jika kamu sekarang sampai saat ini memiliki ia yang mau mendengarkan sebab tak semua orang menemukan apa yang telah kamu miliki hari ini.
Untuk kamu yang belum menemukan seseorang tersebut, tulislah apapun yang kamu rasakan saat ini. Tulisan tidak akan menghakimimu, ia akan bersedia menjadi ruangan; tempat untukmu meluapkan segala beban emosi yang tertahan selama ini.
Beban mental karena trauma, hal yang membuatmu marah, cemas, sedih, gelisah, jika tidak dikeluarkan suatu saat akan meledak. Beban yang dibawa tidak akan kemana-mana jika tidak disadari. Terimalah perasaanmu, sebab ia juga termasuk bagian di dalam hidupmu. Justru kalau kamu terus-menurus menolak, ia seperti akan mengikatmu, menghampirimu setiap saat.
Mulailah untuk jujur dengan diri sendiri tentang perasaan yang dialami, jangan terus-menerus menolak hadirnya. Menyadari keadaan, membuatmu lebih menerima dan tahu cara terbaik untuk lekas pulih.
Tulislah apapun yang kamu mau atau silakan utarakan perasaanmu dengan pendengar yang sekiranya mau dan mampu mendengarkan peluhmu.
Terima kasih untuk kamu yang sudah mulai menerima dan masih bertahan sampai saat ini.
Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.