Mindful Relationship bersama Adjie Santosoputro - Talkshow Rakata
Setiap orang memiliki luka jiwa. Di masa lalu mungkin ada yang menyakiti perasaanya. Terkait penyesalan, kehilangan perlu diseimbangi dengan perasaan menyadari agar hal-hal itu tidak terus-menerus terpikirkan.
Selalu tidak mudah kalau bicara tentang kehilangan. Jangankan kehilangan seseorang yang kita sayangi, kehilangan sepatu saja membuat kita kepikiran terus-menerus. Salah satu tahap cinta paling tinggi ialah hening. Tidak takut kehilangan seseorang tersebut. Ketiadaan aku. Belajar mengurangi aku.
Barangkali kita merasa terikat. Seperti, "kamu milikku" Takut kehilangan karena kita merasa memiliki. Kalau kita tidak memiliki, kita tidak takut kehilangan. Hal ini mempengaruhi respon kita terhadap hubungan yang dijalani.
Cinta yang selama ini pahami ialah menguasai, mengendalikan, mengontrol, dan memiliki seseorang. Bukankah ini menyakitkan jika dalam kurun waktu yang lama? Jangan-jangan selama ini kita memberi makan ego agar merasa terpuaskan.
Semakin dewasa malahan rasanya cinta itu mengurangi ego yang kita miliki. Tidak ada ruang untuk kekerasan atau menyakiti saat kita penuh akan cinta. Mulailah belajar untuk memahami.
Ketika kita berhubungan dengan seseorang, kita mungkin pernah merasa di masa "kok dia berubah? Dulu padahal dia gak begitu. Kok sekarang begini?" Perihal ego yang memuncak. Seringnya kita kewalahan akan hal itu. Tak jarang membuat hubungan menjadi tidak seharmonis biasanya. Sebelum memutuskan menikah. Kita perlu tau kondisi marah, kecewa, sedih pasangan kita.
Ini hanyalah reaksi kondisi tertentu. Perlu diketahui sebenarnya dia tidak berubah, itu hanya kamu saja yang belum tahu sebelumnya.
Salah satu dosenku berkata, "kalau nanti ia marah. Dekap ia atau dengarkan segala yang ia lontarkan"
Bisa jadi ia butuh waktu sendiri. Waktu dimana tidak ada perasaan yang ia tanggung dan ia mendengarkan dirinya sendiri. Bisa jadi juga rasa bosan menyelimuti dirinya.
Peka; mulailah mengenali setiap perubahan yang ada. Ini tentang rasa dan respon atas suatu hal.
Jangan sampai kita membuat tembok pada diri sendiri. Yang membuat kita jadi mati rasa. Kita ngeblok, mempertahankan tembok agar perasaan yang datang tidak mudah masuk. Rasa itu muncul tapi tidak konek ke diri kita. Emosi terus bergejolak, seperti marah, sedih, kecewa. Kalau kita tidak menyadari hal itu. Kita jadi sulit memahami diri sendiri pun orang lain.
Satu hal yang menjadi poin. Sebisa mungkin tidak memutuskan sesuatu di saat kita sedang emosi. Mari belajar ikhlas dan menerima.
Perihal menerima dan mengikhlaskan adalah relasi dengan pikiran kita sendiri.
Hal-hal di masa lalu dan masa depan sering membuat kita takut. Kita sering dibayangi hal tersebut. Semua itu bagian dari pikiran. Pikiran hanyalah pikiran bukan kenyataan yang sebenarnya.
Setiap orang punya bahasanya tersendiri untuk mengutarakan rasanya.