Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Good bye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Gambar
Judul: Good bye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang Penulis: Fumio Sasaki Hlm: 284 halaman Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2018 Di media sosial atau media cetak, kita sebagai konsumen sering disuguhi iklan yang sangat bervariasi. Buku ini membantu kita untuk lebih bijak dalam mengolah barang yang dimiliki atau barang yang akan dibeli. Menurut Fumio Sasaki, minimalis adalah orang yang bisa membedakan kebutuhan dan keinginan-keinginannya karena ingin menampilkan citra tertentu, serta tidak takut mengurangi benda-benda yang termasuk keinginan. Rasa tidak bahagia bukan hanya akibat keturunan, trauma atau hambatan karir. Baginya rasa bahagia timbul karena beban yang dibawa oleh semua barang yang dimiliki. Semakin banyak barang yang kita punya, semakin banyak pula waktu yang kita butuhkan untuk merawat benda tersebut dan semakin luas pula ruangan yang kita butuhkan untuk menyimpan barang tersebut.  Fumio dahulu seorang yang "maksimalis". Bertekad menyimpan segalanya,...

Kenali diri, dengarkan kata hati

Gambar
Konflik dalam diri bisa berakibat konflik terhadap orang lain. Kurang menikmati dan tidak merasa puas terhadap hidup yang dijalani. Mungkin kita pernah merasakan atau mengenal orang yang mudah marah pada orang lain, apalagi berperilaku tidak mengenakan pada orang yang tak dikenal. Bisa jadi, orang tersebut pernah atau sedang dalam konflik pada dirinya sendiri. Hal itu yang membuat orang lain merasa tidak nyaman di dekatnya.  Konflik dalam diri seringnya menyakiti diri sendiri, bahkan orang lain juga. Bisa pula terjadi jika ia merasa dirinya paling menderita sebab trauma yang pernah dialami, rasa cemas yang berlebihan, yang membuat emosinya tidak stabil, opini orang lain yang ditelan mentah-mentah, hal ini juga bisa membuat ia memilih keputusan hidup yang kurang bijak. Orang yang tidak kenal diri biasanya haus akan pujian, tapi hatinya rapuh. Enggak sehat menggantungkan emosi diri terhadap opini orang lain, bukan? Orang yang tidak kenal diri jadi mudah tergerus opini orang lain, i...

Pesan Abi

Pernah suatu ketika seseorang menangis, merasa kecewa terhadap dirinya sendiri dan merasa berdosa sebab yang diharapkan tak sesuai ekspektasi. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan tentang masalah yang sedang dialaminya oleh seorang guru agama yang biasa dipanggil dengan sebutan 'abi' bapakku dalam bahasa arab. Murid-murid lainnya pun memanggilnya begitu.  Abi pernah bilang, "gak semua hal bisa kita ubah sesuai dengan apa yang kita mau. Kita ini manusia, punya keterbatasan. Jadi, jangan mudah merasa bersalah atas apa yang belum bisa kamu ubah. Sebab Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Kalau kamu mau ngerubah seseorang tapi kamu tau kalau kamu itu punya keterbatasan, kamu doa-in dia. Doanya yang tulus, ikhlas biar Allah yang menggerakkan hati dia yang kamu maksud agar sesuai dengan apa yang terbaik menurut Allah."

Ini tentang Bumi #1 (Ruang Sendiri)

Gambar
Kurasa Bumi sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya yang penuh dengan senyuman dan canda tawa kini redup. Aku sendiri tak tahu mengapa. Banyak hal yang tak ia sampaikan padaku tapi aku bisa merasakan walau kita terhalang jarak. Kupikir ini yang namanya kontak batin. Seharian ini pesanku tak ia balas, aku terus mempertanyakan pada diriku sendiri, siapa aku di hidupnya. Huh capek juga yah rasanya memendam sendiri, bertanya sendiri, bergelut dengan pertanyaan sendiri. Bukan jawaban yang aku dapat, malah praduga yang meresahkan hati. Bumi yang kukenal ialah sosok yang kuat, pemberani, murah senyum, yang hadirnya dinantikan, dan yang pasti disayang banyak orang termasuk aku. Hihihi .. Aku cuma bisa berdoa supaya kamu dikuatkan, buat kamu apapun yang kamu jalani dipermudah dan segala harapmu menjadi nyata. Lagi-lagi ini yang kurasa kalau Bumi butuh ruang sendiri untuk memahami dirinya sendiri. Tentu itu bukan hal yang buruk. Aku belajar banyak hal darinya bahwa kadang kita mencoba membahagiaka...

Alasan Bersyukur

Belakangan ini saat mengendarai motor dalam keadaan pikiran kosong dan syukurnya masih diberi selamat sampai tujuan. Kehadiranku diterima di hidup orang lain. Masih bisa berkabar dengan orang yang disayangi.

Menerima

Belajar menerima hal-hal yang di luar kendali kita. Entah itu perihal perasaan yang tak terbalas, perilaku ia terhadap kamu, ataupun kejadian alam. Yang perlu kamu pahami, bahwa apapun yang ia lakukan kepadamu, itu atas dasar kesadaran dirinya. Kendalikan apa yang bisa kamu kendalikan. Ya, perasaan yang bersarang di hati kamu.  Beri ruang untuk mendengar kata hati. Seringnya kita terlalu jauh melangkah ke masa depan dan mengenang masa lalu, membayangkan hal yang telah lalu atau masa depan yang masih jadi bayangan. Kita terlalu lama tidak pulang; terlalu lama tidak mendengarkan kata hati. Kita merasa dunia tak adil dan menyebalkan karena kita menolak hal yang di luar kendali kita. Sadari dan belajarlah menerima. Menerima apapun yang ada di hadapan kita. Menghargai keberadaan yang masih ada, terlebih ia yang tulus menerima kita apa adanya. Sebab belum tentu ia yang masih ada untuk kamu saat ini, masih ada di esok hari. Kalau kamu masih diberi napas hari ini, berarti kamu masih dib...

Si Bungsu

Hampir semua keputusannya, dipilihkan. Ikut memilih terkadang memperkeruh suasana. Dituntut sempurna atas kesalahan yang sebenarnya tidak pernah ia perbuat sebelumnya. Menentukan pilihan sesuai dirinya adalah sebuah hal langka. Butuh keberanian yang luar biasa hebatnya untuk melakukannya. Tidak boleh lebih mengecewakan dari yang sebelumnya. Dituntut lebih baik dari segala hal. Lebih banyak waktu mendengar keburukan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya dan harus bisa mengantisipasi hal tersebut terjadi. Sisi anak kecil yang selalu melekat. Dianggap anak kemarin yang tak tahu apa-apa.

Merasa bodoh?

Merasa bodoh? Tenang, kamu punya Allah yang Maha Mengetahui. Minta sama Allah biar dikasih ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. Yang dengan ilmu itu bisa makin dekat dengan Allah dan bisa menghebatkan masa depan. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِيْ وَيَسِّرلِي أَمْرِي وَ احْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّساَنِي يَفْقَهُوْا قَوْلِي  Ya Allah lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan jelaskanlah lisanku agar orang-orang memahami perkataannya. رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا Ya Allah, tambahkanlah aku ilmu dan berilah aku karunia agar dapat memahaminya

Biarin aja

Kalau nanti ada yang mau pergi dan kamu tau walaupun dia engga bilang sepatah kata pun, yaudah biarin aja pergi, ikhlasin. Ga baik menahan sesuatu yang mau pergi. Biarpun dia bilang akan setia selamanya, tapi waktu engga berhenti gitu aja. Selalu ada pergantian pemeran di setiap pergantian waktu. Yang bilang menetap nantinya pun akan pindah ke lain tempat. Gapapa ya nanti kalau pergi. Sedih gapapa, wajar ko, manusiawi. Tapi kamu harus tau, biar dia bahagia, kamu harus ikhlas atas kepergiannya. Ga mudah emang, tapi dengan begini kamu jadi tumbuh lebih kuat. Kamu jadi lebih sadar kalau yang ada di sekitar kamu sekarang harus kamu hargai, sekecil apapun itu.

Selisih Paham

Kalau ada yang berselisih paham, sadar. Cara komunikasinya ada yang salah. Sisi egoisnya harus dikurangi sebab hidup ga melulu soal diri kamu aja, ada orang lain juga yang menaruh harap padamu atau hubungan ini. Misal, sudah sepakat ingin mendapatkan hasil 5. Banyak cara untuk mendapatkannya, seperti 5×1, 10:2, 20:4, 100:20, 2+3, ... Kalau kamu memilih 5 dan dia memilih 4 jika digabungkan engga akan ada hasil 5. Harus ada yang mengalah salah satu atau memilih opsi lain. Maka, perlu adanya komunikasi yang terbuka. Yaudah oke, udah ngobrol segala macem dan keputusannya kamu milih 7 dan dia milih 2. Dalam eksekusinya pakai pengurangan. Maka, 7-2=5. Yap, dapatlah hasil 5. Terlihat sederhana memang, tapi kalau sisi egoisnya memuncak, hal-hal yang dianggap sederhana pun akan rumit. Tujuannya mendapatkan hasil 5. Tapi dalam memilih angka dan eksekusinya harus sesuai dengan kesepakatan bersama, ya itulah komunikasi.

Tiga hal darinya

Aku pernah bertemu dengan seseorang yang kukira satu tujuan, akan tetapi ternyata kita berpisah di persimpangan jalan.  Aku belajar 3 hal darinya: Belajar mengikhlaskan. Apapun yang kita rencanakan selalu ada kemungkinan gagal, hancur, atau tertunda. Ia mengajariku makna kalau mau tumbuh lebih tinggi harus punya akar yang kuat. Belajar memahami. Kita selalu punya versi buruk dan baiknya masing-masing. Darinya aku memahami kalau kita harus memiliki ruang untuk tumbuh agar menjadi versi terbaik dan sadar akan perannya masing-masing. Belajar memaklumi. Harus sadar betul kalau pengetahuan kita sangat terbatas, benar atau salah itu penilaian masing-masing. Dengan memberi ruang untuk memaklumi, kita jadi lebih mengerti dan saling belajar dari sudut pandang yang berbeda tanpa batasan waktu. Pernah suatu ketika terlintas, "kalau saja kita lebih memahami, mengikhlaskan, dan memaklumi satu sama lain, mungkin kita masih bersama" Namanya juga rencana manusia, tetap saja Tuhan yang menen...

Belajar Peka

Mumpung masih ada waktu. Mumpung masih ada kesempatan. Selagi bisa. Maksimalin sebisa mungkin. Waktu yang kita punya itu sangat cukup untuk itu semua. Kadang kita ga sadar akan peluang yang ada sampai pada akhirnya nyesel abis karena ngelewatin gitu aja dengan sia-sia. Justru hal yang dikira sepele, bahkan dianggap biasa aja. Suatu saat akan sangat bermakna sampai terkagum-kagum sendiri, "Wah gils ternyata waktu itu adalah kesempatan emas. Kalau gue ngelewatin momen itu, beh! Pasti nyesel banget seumur hidup" Dan yang perlu di garis bawahi juga, kita harus bisa menikmati waktu yang ada. Kita ga bisa memaksakan hal-hal yang di luar kontrol kita tapi yang bisa kita lakuin itu, mengontrol diri dengan melakukan hal yang lebih berkualitas daripada sebelumnya. Hal sederhana yang dianggap biasa yaitu waktu makan bersama dengan keluarga atau orang terkasih, perhatiannya yang terkadang terasa begitu berlebihan, tingkahnya yang konyol, tawanya yang lepas, suara khas ibu/ayah/saudara...