Si Tanpa Pamit

Ini tulisan yang kutulis saat teringat hal yang cukup menyayat hati.


Aku sadar kalau aku tidak sempurna, banyak cela. Bagiku, salah tak apa daripada tak mencoba sama sekali. Baiklah, berusaha meluangkan sisi kosong untuk hadirmu. Hidupku rasanya penuh. Karena tak sembarang orang boleh menempati sisi kosong yang telah kusediakan. Jangankan menempati, tidak sembarang orang kupersilahkan untuk mengetuk apalagi membukanya. Hmm.. cukup sulit rasanya aku bersiap membuka sisi kosong untuk diisi kembali. Karena kupikir, kalau sisi kosongnya itu masih ada sisa masa lalu, yang baru pun tak bisa masuk sepenuhnya. Harus seluruhnya "masa lalu" dikeluarkan terlebih dahulu, lalu menerima masa yang baru. Ya begitulah kiranya.

Kukira kamu yang tepat, tapi ternyata kamu yang membuat sayat. Huh, perih rasanya. Apalagi kalau kuingat. Tapi nampaknya kamu baik-baik saja meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Aku berdoa, semoga kamu lekas disadarkan. Mengingatmu saja buat hatiku nyeri bukan main, mungkin ini rasanya belajar memaafkan. Tak mudah memang, tapi semoga aku bisa. Sama halnya kamu bisa pergi tanpa kabar pamit. Hehe.. apapun itu alasannya, semoga kamu lekas bersama dengan bahagia yang kamu harap.