Padam
Jika Tuhan tidak membuatku mengantuk, dapat dipastikan air mataku terkuras habis sebab begitu derasnya aliran itu jika aku ingat semuanya.
Hal yang telah lama ingin aku tuangkan nyatanya tertuanglah sudah.
Dua manusia terbaik yang rela mengganti kebahagiaannya menjadi derita untuk sosok yang tak tahu diri seperti aku ini. Aku egois, pernah berkata "kalian egois, mau di dengarkan tanpa ingin mendengarkan" . Padahal ucapan itu seharusnya aku lontarkan di depan cermin. Ya, aku lah yang pantas menerima pernyataan seperti itu.
Terima kasih untuk bekal di pagi harinya. Maaf pernah ku buang begitu saja hasil jerih payahmu. Pernah ku sia-siakan perjuangan di pagi hari itu. Aku yang masih tidak tahu diri ini sering menjadi beban pikiranmu padahal untuk membahagiakan ku, kau harus berjibaku menahan setiap beban yang acap kali buatmu tersungkur hingga terjatuh.
Membagi waktu istirahatmu untuk membuatku tersenyum terlebih dulu sebelum tertidur lelap. Maaf telah buatmu pernah naik pitam sebab keterlambatan ku untuk sampai di rumah."Lagi dimana?" , aku minta maaf sering buatmu khawatir untuk kesekian kalinya.
Aku sering meminta tanpa pikir panjang terlebih dahulu dan menghabiskannya dengan sekejap saja padahal yang kauberi itu adalah kumpulan dari hasil membagi kebahagiaan dengan kesakitan yang kauderita sekarang ini. "Yang penting kau bahagia" , ujarnya padaku waktu itu. Terima kasih, aku si manusia tak tahu diri ini, sekarang merasa sangat bahagia.
Aku sadar mengapa Tuhan memerintahkan untuk berbuat baik pada setiap makhluk terutama untuk manusia terbaik yang ku kenal sejak kecil. Manusia terbaik yang menyertakan kebaikan untukku setelah bersujud dan memohon pada-Nya.
Tanpa sadar aku sering berjalan dengan pongah di atas tanah yang akan membumikan ku kelak. Padahal setiap jejak yang aku tapaki, ada kebaikan yang aku dapati dari pemohon yang sering mengadahkan tangannya, memohon dengan sangat pada Tuhan agar kelak aku menjadi manusia terbaik yang dapat bermanfaat untuk manusia lainnya.
Kamis, 14 maret 2019
Hal yang telah lama ingin aku tuangkan nyatanya tertuanglah sudah.
Dua manusia terbaik yang rela mengganti kebahagiaannya menjadi derita untuk sosok yang tak tahu diri seperti aku ini. Aku egois, pernah berkata "kalian egois, mau di dengarkan tanpa ingin mendengarkan" . Padahal ucapan itu seharusnya aku lontarkan di depan cermin. Ya, aku lah yang pantas menerima pernyataan seperti itu.
Terima kasih untuk bekal di pagi harinya. Maaf pernah ku buang begitu saja hasil jerih payahmu. Pernah ku sia-siakan perjuangan di pagi hari itu. Aku yang masih tidak tahu diri ini sering menjadi beban pikiranmu padahal untuk membahagiakan ku, kau harus berjibaku menahan setiap beban yang acap kali buatmu tersungkur hingga terjatuh.
Membagi waktu istirahatmu untuk membuatku tersenyum terlebih dulu sebelum tertidur lelap. Maaf telah buatmu pernah naik pitam sebab keterlambatan ku untuk sampai di rumah."Lagi dimana?" , aku minta maaf sering buatmu khawatir untuk kesekian kalinya.
Aku sering meminta tanpa pikir panjang terlebih dahulu dan menghabiskannya dengan sekejap saja padahal yang kauberi itu adalah kumpulan dari hasil membagi kebahagiaan dengan kesakitan yang kauderita sekarang ini. "Yang penting kau bahagia" , ujarnya padaku waktu itu. Terima kasih, aku si manusia tak tahu diri ini, sekarang merasa sangat bahagia.
Aku sadar mengapa Tuhan memerintahkan untuk berbuat baik pada setiap makhluk terutama untuk manusia terbaik yang ku kenal sejak kecil. Manusia terbaik yang menyertakan kebaikan untukku setelah bersujud dan memohon pada-Nya.
Tanpa sadar aku sering berjalan dengan pongah di atas tanah yang akan membumikan ku kelak. Padahal setiap jejak yang aku tapaki, ada kebaikan yang aku dapati dari pemohon yang sering mengadahkan tangannya, memohon dengan sangat pada Tuhan agar kelak aku menjadi manusia terbaik yang dapat bermanfaat untuk manusia lainnya.
Kamis, 14 maret 2019