Tak terbalas

Semalam aku bermimpi tentang seseorang yang pernah meninggalkanku. Kepergiannya cukup buatku tak kuasa menahan rasa perih setiap mengingatkan, mungkin benar karena aku terlalu menaruh harap yang berlebih sedangkan ia tidak. Sebelum aku tidur, aku telah mengutarakan perasaanku pada seseorang. Teman sekelasku berkata suka padaku, namun aku tak bisa membalas sesuai dengan harapnya yang ia rapalkan. Aku apresiasi keberaniannya untuk mengutarakan apa yang ia rasa, tentu tidaklah mudah. Butuh ruang untuk menerima jawaban yang tak terduga. Semoga ia tak punya dendam atas apa yang telah kukatakan padanya. Lalu aku beranjak untuk mengistirahatkan pikiranku. Dan yang kudapatkan ialah mimpi tentang perasaanku yang pernah tertolak beberapa tahun lalu oleh seorang laki-laki yang kuanggap paling sempurna di hidupku. Padahal hanya di mimpi tapi rasa sakitnya begitu sangat, sampai kubangun dari tidurku hingga saat aku menulis cerita ini. Memang siapa yang ingin ditolak? Hahaha omong kosong bila tak ada rasa perih di hati dan sesak di dada.

Untuk kamu, siapapun itu yang membaca tulisan ini. Semoga rasa perihmu lekas sembuh dan sesakmu menjadi lebih lega untuk menerima kenyataan yang (mungkin) terbilang cukup pahit. Kamu berhak bahagia sekalipun sakitmu menggerus tubuh yang dikira paling tangguh dan kuat. Masih banyak yang menyayangimu sekalipun hadirmu tak diinginkan ia yang kamu harap. Hargai yang kamu miliki saat ini. 

Tak semua rasa dibalas semestinya. Semoga setelah ini kamu lebih menerima realita dan tak memelihara benci di hati baikmu.